Seminar Budaya: Keris Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Kamis, 25 Agustus 2011

0

9566

Keris Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)  oleh UNESCO pada 25 Nopember 2005. Adanya pengakuan tersebut, menurut Pakar Perkerisan Indonesia, Ir. Haryono Haryoguritno, mempunyai konsekuensi agar semua pihak melakukan banyak hal dalam melestarikan dan mengembangkan perkerisan Indonesia.

Sudah saatnya kita mulai melakukan banyak hal berkaitan dengan dunia perkerisan. Rencana aksi UNESCO harus segera diterjemahkan ulang dan dilaksanakan sebagai salah satu konsekuensi pertanggung jawaban kita atas diterimanya keris Indonesia sebagai warisan budaya dunia, kata Haryono Haryoguritno dalam Seminar Budaya: Keris Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dibuka Menbudpar Ir. Jero Wacik, SE di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona kantor Kementerian Budpar Jakarta, Kamis (25/8).

Haryono menyampaikan dua makalah, pertama berjudul Keris Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang memaparkan dunia perkerisan secara umum, termasuk dari  aspek mikro  di antaranya tentang garis besar perkembangan pengetahuan dalam dunia perkerisan termasuk di dalamnya tentang periodesasi pembabakan era perkerisan, perkembangan bahan pembuatan keris, kreteria penilaian keris, hingga keris sebagai investasi di mana keris pada era sekarang menjadi salah satu komoditi penting dalam perdagangan benda seni yang memiliki harga bervariatif.

Sementara itu dalam makalah kedua dengan judul Pengakuan UNESCO dan Konsekuensinya, Haryono memaparkan aspek makro tentang dunia perkerisan. Usulan Indonesia ke UNESCO tentang keris sehingga diakui sebagai warisan budaya takbenda (intangible) antara lain mencakup sejarah, tradisi, fungsi sosial, teknik tempa, estetika, falsafah, symbol dan mistik perkerisan Indonesia.

Haryono menilai, sebagai dampak dari pengakuan UNESCO tersebut perlu melakukan rencana aksi (action plan) baik dalam jangka pendek seperti membentuk Lembaga Keris Indonesia, sedangkan dalam jangka menengah antara lain menginvetarisasi keris, pemilik, dan penggemarnya serta melakukan riset laboratorium. Sementara dalam  jangka panjang adalah membentuk Kerisologi sebagai ilmu baru mengenai keris yang disusun secara ilmiah, sistematis, dan konprehensif.

Seminar  dihadiri sekitar 150 perserta di antaranya Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Budpar I Gde Pitana, Dirjen Nilai, Budaya, Seni dan Film (NBSF) Ukus Kuswara, Irjen Kemenbudpar I Gusti Putu Laksaguna, dan Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Eman Suparno yang juga sebagai Ketua Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI) . (Pusinpub)