PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI

Rabu, 8 Juni 2011

0

3171

DI MALUKU DALAM KERANGKA OTONOMI DAERAH:

 POTENSI, KARAKTERISTIK DAN PENGEMBANGANNYA UNTUK PARIWISATA

 Wuri Handoko

Balai Arkeologi Ambon

Jl. Namalatu-Latuhalat, Kota Ambon 

 

ABSTRACT

The management of various important resources to increase the rate of development is encouraged within the framework of regional autonomy. Local governments are required to fulfill the needs of their communities and increase their standard of living.  Today the culture and archaeological resources are empowered for development. Many potential archaeological resources are excavated and some cultural characteristics are being identified to be developed as tourism objects. Around Maluku region, there are some archaeological sites that are potential to develop as tourism objects.

 

Keywords: Resources, archaeology, potency, characteristics, development, tourism

 

PENDAHULUAN

 

Text Box: Naskah diterima : 13 Januari 2011, revisi terakhir : 17 Februari 2011
Bergulirnya otonomi daerah dengan peraturannya yang terbaru yakni UU Nomor 32 Tahun 2004, semakin melebarkan peluang pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Diberlakukannya undang-undang otonomi daerah, maka telah terjadi pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan kabupaten/kota yang penyelenggaraannya sesuai asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Dalam hal ini pemerintah telah menyerahkan seluruh kewenangannya kepada daerah untuk mengelola tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan (Tim Litbang, 2003). Daerah, memiliki kewenangan untuk mengelola pula sumberdaya yang dimilikinya. Oleh karena kewenangan itu, yang terjadi saat ini, pemerintah daerah seakan berlomba mengkalkulasi pendapatan daerah sebagai modal pembangunan. Berbagai sumberdaya dieksplorasi, dan dieksploitasi. Sayangnya, banyak daerah masih sangat menggantungkan modal pembangunan dari sumberdaya alam. Seringkali terjadi, laju eksploitasi sumberdaya alam kurang terkendali. Atas nama pembangunan, banyak kasus justru sumberdaya alam semakin menipis, akibat laju eksploitasi kurang memperhatikan pelestariannya.

Di era otonomi daerah yang terus bertumbuh dewasa ini, masih marak terbentuknya daerah-daerah baru. Wilayah pemerintahan yang terbentuk, berlomba dalam pembangunan, meski seringkali tak dibarengi dengan kemampuan sumberdaya yang ada. Masing-masing daerah berorientasi pada Peningakatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk memompa laju pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan dalih ini, berbagai upaya eksploitasi lingkungan dilakukan. Salah satu dampak negatif dari upaya ini, banyak kasus justru merugikan daerah sendiri, baik pemerintah maupun masyarakat, sebab laju eksploitasi lingkungan yang tak terarah dan tak terkendali.

Kalkulasi pendapatan daerah, mendorong pemerintah untuk menghadirkan berbagai alternatif modal pembangunan. Dewasa ini, salah satu alternatif itu yakni sumberdaya budaya, yang mencakup pula sumberdaya arkeologi. Meski demikian, sebenarnya sektor ini masih sangat terbatas diperbincangkan, padahal menyimpan potensi besar sebagai salah satu modal pembangunan jika dikelola dengan baik. Namun masih sedikit daerah yang memahami bahwa sumberdaya arkeologi adalah aset pembangunan. Alih-alih mengelolanya sebagai modal pembangunan, tak jarang malah menghancurkannya atas nama pembangunan.

Dalam kerangka otonomi daerah saat ini, banyak pihak semakin serius mendorong wacana sumberdaya arkeologi sebagai modal pembangunan. Sebagai modal pembangunan, maka asset-asset budaya tersebut mesti dipertahankan keberadaannya. Berbagai sektor perlu diberdayakan secara merata, agar menutupi berbagai ketimpangan yang ada. Dewasa ini, salah satu sektor penting yang kerap kali menjadi tumpuan pembangunan adalah sektor pariwisata. Tercatat sektor ini menjadi salah satu primadona Indonesia dalam perolehan devisa negara. Oleh karena itu berbagai potensi pariwisata terus digali, dengan konsep pengelolaan yang tepat guna dan menjunjung tinggi azas kerakyatan dan berbasis pada pelestarian sumberdaya itu sendiri. 

Meskipun ada kecenderungan positif, sumberdaya arkeologi semakin kuat posisinya dalam ranah pembangunan, namun instrumen pengelolaannya masih sangat terbatas. Dalam konteks otonomi daerah, dimana peran dan kewenangan pemerintah daerah untuk mengembangkan daerahnya sendiri, perlu memacu diri untuk memahami bagaimana mengelola berbagai sumberdaya alternatif yang dapat menjadi modal pembangunan. Para pemangku kebijakan beserta masyarakat harus bersinergi dalam satu kesepahaman dan gerak langkah sama dalam pengelolaan sumberdaya arkeologi yang berazaskan pembangunan berkelanjutan.

Berkenaan dengan keberadaan potensi sumberdaya arkeologi yang ada di wilayah Maluku, dengan kondisi kekinian yang belum dikelola dengan baik, maka muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar berkaitan dengan upaya peningkatan pembangunan dengan sumberdaya alternatif yakni sumberdaya arkeologi sebagai modal pembangunan. Berdasarkan hal demikian, rumusan masalah dalam tulisan ini adalah :

1.      Bagaimana potensi dan karakteristik sumberdaya arkeologi di wilayah Maluku dikelola dalam kerangka pembangunan otonomi daerah?

2.      Bagaimana model pengelolaan dan pengembangan sumberdaya arkeologi sebagai modal pembangunan dalam konteks pengembangan pariwisata?

Berdasarkan permasalahan tersebut, tulisan ini akan menguraikan tentang potensi sumberdaya arkeologi dan karakteristiknya. Tulisan ini merupakan pemaparan hasil penelitian arkeologi yang menekankan pada pengamatan dan observasi langsung terhadap situs-situs arkeologi pada saat penelitian lapangan dilakukan. Dalam hal ini dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu: pendekatan teoritik (theoritical input), yaitu dengan mengupas permasalahan dengan berbagai teori dari berbagai disiplin ilmu yang terkait, terutama menyangkut pariwisata, sedangkan pendekatan empirik (empirical input), yaitu mengupas permasalahan berdasarkan hasil amatan sebagaimana yang tertuang dalam deskripsi.

Pada tingkat pembahasan,tulisan ini berusaha mengidentifikasi model pengembangan wisata arkeologi sekaligus upaya pelestariannya serta konsep pengelolaan yang mendukung obyek arkeologi dalam konteks pengembangan pariwisata. Pembahasan mula-mula dengan mengetengahkan latar belakang kesejarahan munculnya obyek arkeologi yang dapat dianggap sebagai warisan budaya (cultural heritage) yang dalam skala yang luas dapat dihadirkan sebagai sumberdaya arkeologi sebagai salah satu modal peningkatan pembangunan  dan kesejahteraan masyarakat. Pada saat yang sama potensi sumberdaya arkeologi tersebut juga perlu dilestarikan. Oleh karena itu, pembahasan dalam tulisan ini dipertajam dengan penjelasan menyangkut bagaimana pelestarian sumberdaya arkeologi dan pengelolaanya sebagai bagian dari industri wisata di daerah Maluku. 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rempah-Rempah Dan Potensi Sumberdaya Arkeologi Maluku

Gugusan pulau yang berderet-deret di atas hamparan laut menyimpan pesona tersendiri bagi wilayah Propinsi Maluku. Pesona yang menghadirkan wajah Kepulauan Maluku yang eksotik dan menawarkan sejuta potensi bagi pengembangan wisata daerah ini. Wilayah Propinsi Maluku dan Maluku Utara yang eksotik, dijuluki Negeri Seribu Pulau. Terdapat 1.027 pulau besar dan kecil yang membentuk propinsi Maluku. Pulau terbesar adalah Pulau Seram (18.625 Km2), disusul Pulau Buru (9000 km2), Pulau Yamdena (5.085 Km2) dan Pulau Wetar (3.624 Km2 ). Wilayah Kepulauan Maluku dikepung oleh lautan yang luas dan dalam. Di sebelah Utara, terbentang luas Lautan Teduh (Pasisifik); disebelah Selatan Lautan Indonesia, di sebelah barat Laut Maluku/Pulau Sulawesi, disebelah timur Laut Pulau ‘Cendrawasih’ Papua. Sebagai daerah kepulauan, maka topografi Maluku ditandai dengan iklim tropis dan iklim muson.

Wilayah Kepualuan Maluku, dalam hal ini mencakup Provinsi Maluku dan Maluku Utara terkenal dengan sebutan Pulau Rempah-rempah (The Spice Island), sejak dulu dikenal sebagai dunia pusat penghasil rempah-rempah. Semerbak harum cengkeh dan pala, telah membius banyak negara untuk menemukan sumbernya. Pesona rempah-rempah menjadi rona zaman, menghiasi setiap zaman yang dilalui wilayah ini. Bahkan pada abad pertengahan, cengkeh dan pala adalah komoditi yang paling diburu orang.

Kekayaan rempah-rempah Maluku, sejak abad pertengahan bahkan telah menyebabkan terbangunnnya formasi dan struktur budaya, sosial dan peradaban Maluku yang benar-benar baru. Dalam jelajah zaman, abad pertengahan telah menandai lahirnya skema sosial dan tatanan budaya yang baru bagi wilayah Maluku. Hadirnya budaya yang dibawa oleh para pedagang asing seperti Cina, Arab dan Eropa serta pedagang Nusantara dari luar Maluku adalah pertanda itu. Dan tak bisa dipungkiri sumbunya terletak pada kekayaan rempah Maluku.

Hadirnya bangsa asing berikut budayanya telah meninggalkan tapak-tapak budaya yang dapat kita saksikan hingga saat ini baik budaya hidup (living culture) maupun tinggalan budaya benda (arkeologi). Oleh karena itu sumberdaya arkeologi di wilayah Maluku, merupakan pertinggal/tapak budaya dan juga warisan (heritage) yang ditinggalkan oleh berbagai persentuhan budaya lokal dan asing yang mewakili setiap lembaran rentang zaman.

Kini, sumberdaya arkeologi itu, niscaya dapat menjadi salah satu kekayaan Maluku. Tapak budaya dunia yang mewakili setiap zaman yang dilaluinya. Penegasnya, dapat kita baca beberapa alasan yang memperkuat hal itu, Pertama; dari segi geolinguistik dianggap sebagai bagian dari tanah asal suku-suku bangsa pemakai bahasa-bahasa Austronesia (Andili, 1980); (2) dari segi geokultural merupakan lintasan strategis migrasi-migrasi manusia dan budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia, Oceania dan ke arah timur yang  diikuti oleh  perkembangan budaya  wilayah  timur sejak ribuan tahun lalu (Solheim, 1966; Duff, 1970; Shutler; 1975: 8-10); (4) dari segi ekonomi merupakan wilayah penghasil rempah-rempah paling utama, yang antara lain menyebabkan wilayah tersebut menjadi ajang potensial pertarungan kepentingan hegemoni ekonomi, dan akhirnya bermuara pada pertarungan politik dan militer (Meilink-Roelofsz, 1962:93-100; dalam Ambary, 1998:150).

Di Wilayah Maluku, dalam setiap jelazah zaman, terdapat tapak arkeologi yang tertinggal, yang dapat menjadi inspirasi pengetahuan masa lalu juga kekayaan budaya yang potensial sebagai daya tarik wisata.

 

Karakteristik Wisata Arkeologi Dan Model Pengembangannya

Deretan pulau-pulau di wilayah perairan Maluku adalah ruang lintasan dari perjalanan budaya dalam setiap jelazah zaman. Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian arkeologi, pada hampir setiap pulau di wilayah ini, dapat kita temui tapak budaya yang mewakili setiap zaman. Sejak masa prasejarah hingga masa Kolonial dapat ditemukan jejak budayanya.

Pesona wisata budaya Maluku memiliki karaktersitik sendiri jika dibingkai oleh obyek wisata alam baik bahari dan pegunungan sebagai satu kemasan paket wisata. Maluku adalah tipikal wilayah kepulauan, maka pesona bahari, alam pedalaman dan pegunungan adalah sebuah bingkai alam yang menghadirkan keindahan, menawarkan sejuta pesona wisata.  Khusus di wilayah Provinsi Maluku, potensi sumberdaya arkeologi meliputi wilayah-wilayah antara lain:

 

Wilayah Pulau Seram

Pulau Seram, atau dikenal pula dengan sebutan Nusa Ina, Pulau Ibu, induk dari segala pulau yang ada di wilayah Maluku. Pulau dengan struktur geologinya yang tertua. Konon, dari sinilah suku-suku pribumi Maluku berasal muasal. Disini pula dipercaya menyimpan kebudayaan tertua orang Maluku. Deretan lokasi situs menawarkan sejumlah potensi wisata. Kampung Tradisional Suku Nuaulu dan Huaulu, Kampung pedalaman Maraina yang berdampingan dengan Taman Nasional Manusela, Lukisan Cadas (Rock Art) di Pesisir Pantai Teluk Saleman dan Teluk Sawai adalah sejumlah tempat yang dapat ditawarkan.

Di Kampung Tradisional Suku Nuaulu dan Huaulu, barisan rumah-rumah tradisional khas pedalaman Maluku, atap daun sagu, ramuan rumah kayu dan pelepah sagu tanpa paku adalah ciri khas rumah tradisional Orang Nuaulu yang masih terus dipertahankan. Berbagai atraksi budaya hidup masih dapat kita jumpai, antara lain prosesi upacara pendewasaan diri baik kaum pria maupun wanita, upacara pendirian rumah adalah beberapa bentuk atraksi budaya yang masih dapat kita saksikan.

Kampung tradisional suku Nuaulu adalah tipikal kampung pedalaman orang Maluku, uniknya saat ini, lokasi kampung berada di pesisir pantai. Budaya pedalaman dalam setting geografis pesisir pantai adalah perpaduan yang unik. Sebuah karakteristik situs budaya yang menawarkan pesona tersendiri. Situs budaya dengan berbagai pesona wisata budaya dibingkai keindahan panorama laut adalah karakteristik obyek wisata yang menarik.

Desa adat Maraina, sebuah situs budaya yang menampakkan morfologi desa pedalaman, dengan berbagai sentuhan tradisi dan budaya lokal yang masih sangat kental adalah sebuah pengalaman menarik bila kita bisa menyaksikannya. Berjejer dengan desa, terdapat Taman Nasional Manusela. Sebuah suaka alam, yang menyimpan kekayaan sumberdaya hayati, binatang endemik dan berbagai tumbuhan dan tanaman langka khas Maluku. Desa Maraina bisa disebut sebagai penjaga Taman Nasional. Berbagai praktek kearifan lokal masyarakat desa dalam pemanfaatan alam adalah tradisi yang bisa menjadi inspirasi banyak pihak.

Kemudian, lebih ke utara lagi dari Pulau Seram, tepatnya di pesisir Teluk Saleman dan Teluk Sawai, terdapat lukisan cadas (rock art) yang digoreskan di permukaan tebing karst yang menjulang, persis di tepian pantai. Tebing karst, layaknya sebuah tembok laut. Disitu telah tergurat cerita kuno nenek moyang tentang perjalanannya di awal zaman. Lukisan cadas ini menggambarkan berbagai motif, seperti lukisan matahari, cap tangan, manusia dalam berbagai posisi, lukisan binatang dan sebagainya.  

 

Wilayah Pulau Ambon dan Lease

Pulau Ambon dan Lease, bisa mewakili tipikal Wisata Kota. Di kedua pulau ini, deretan Benteng Kolonial di tengah pemukiman penduduk adalah nuansa wisata yang menghadirkan kesan tertentu. Di Kota Ambon, selain obyek wisata benteng, wisatawan juga bisa menikmati berbagai sajian jajanan (kuliner) lokal. Di Pulau Ambon bagian utara, tepatnya di Jazirah Leihitu, selain benteng, juga wisata religi dengan mengunjungi Masjid Tua Kaitetu, diselingi pula berbagai atraksi budaya seperti Tarian Adat Pukul Menyapu dan Bambu Gila, yang sangat khas. Lokasi benteng kolonial, gereja tua dan masjid kuno di tengah pemukiman penduduk, menghadirkan nuansa wisata selain wisata kota juga wisata desa. 

 

Kepulauan Maluku Tenggara

Ikon wisata di wilayah Maluku Tenggara, diwakili oleh situs-situs budaya perkampungan tradisional. Perkampungan Tradisonal Sangliatdol, Tanimbar Kei, Leti Moa Lakor, adalah beberapa tempat yang cukup dikenal. Perkampungan tradisional dengan ciri utama sebuah kampung yang dikelilingi oleh pagar batu. Pola keruangan menampilkan pembagian ruang pada sebuah perahu. Beberapa pagar batu bahkan benar-benar menampilkan morfologi sebuah buritan perahu. Perkampungan diatas bukit, dengan hamparan laut dan pantai pasir putih yang lurus dan melengkung di kaki bukit, adalah pesona keindahan yang dihadirkan obyek wisaya budaya tersebut.

Selain itu terdapat pula, obyek wisata arkeologi lukisan cadas (rock art) di tebing pantai Ohoidertawun. Sama seperti di wilayah Seram, dinding cadas yang menjulang, persis di bibir pantai, laksana sebuah tembok laut. Disitu tergurat cerita nenek moyang dalam perjalanannya menjelajah zaman.          

 

Wilayah Banda Neira

Kepulauan Banda Neira, merupakan wilayah dari Provinsi Maluku yang banyak menyimpan Benda Cagar Budaya tinggalan Kolonial. Begitu banyaknya bangunan monumental peninggalan Belanda yang masih dapat dijumpai hingga sekarang. Wilayah ini bisa dihadirkan sebagai sebuah kota kolonial di wilayah Maluku. Wisata Kota Kolonial dengan kepungan panorama bahari yang memukau, ditambah barisan pulau besar dan kecil. Tiap pulau menyajikan keindahannya sendiri. Pulau terbesar dari pulau ini adalah Pulau Banda Besar yang bentuknya mirip bulan sabit dengan luas daratan 34 km persegi.

Di pulau ini terdapat batu karang menjulang dengan ketinggian 20 m. Dari jauh tampak seperti kapal kandas. Taman laut terhampar di laut Banda. Ditambah panorama Gunung Api yang menawan. Belum lagi, kekayaan Pala, menjadikan wilayah ini sebagai pusat perkebunan Pala. Sebuah potensi agrowisata yang menjanjikan. Gugusan Kepulauan di tenggara Pulau Ambon dan di selatan pulau Seram ini layak dihadirkan sebagai masterpiece atau ikon wisata budaya dan wisata bahari wilayah Maluku.

Model pengembangan wisata arkeologi adalah soal bagaimana mengemas paket wisata yang memadupadankan antara obyek arkeologi dengan berbagai obyek lainnya. Situs-situs arkeologi sebagai sebuah lokasi wisata, tak dapat dilepaskan dengan potensi obyek wisata lainnya, yakni wisata alam (baik pegunungan maupun bahari) dan berbagai atraksi budaya masyarakat yang masih hidup.

Obyek warisan budaya sebagai lokasi wisata perlu dibingkai oleh berbagai obyek wisata lainnya yang saling mendukung dan memperkaya obyek sasaran wisata. Dibingkai dalam satu kemasan paket wisata. Dengan demikian tampak obyek yang dinamis dan menambah daya tarik wisata. Biasanya, lingkungan sekitar obyek lebih mudah dimanfaatkan untuk itu, dengan tetap mengutamakan pelestarian lingkungan sekitar.

Beberapa contoh lokasi wisata di beberapa tempat di Indonesia mengembangkan strategi ini. Bahkan dalam kasus pengelolaan Candi Borobudur dan Prambanan, dukungan zonasi taman-taman wisata justru menjadi strategi pelestarian, agar pengunjung tidak seluruhnya terkonsentrasi di obyek wisata utama.  Contoh lain, obyek wisata Gua Sumpang Bita, di Sulawesi Selatan, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju untuk memasukui gua dengan berbagai lukisan cadasnya, tetapi juga disodorkan berbagai panorama taman lengkap dengan kolam pemandian dan rumah-rumah mungil tempat beristirahat.

Inovasi dalam mengembangkan daya tarik obyek wisata budaya perlu dilakukan secara terus-menerus. Secara teoretik atraksi wisata pada umumnya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu: (1) Sumber-sumber atraksi alami (natural resources), misalnya air terjun, iklim, danau, hutan rimba dan lain-lain.; (2) Sumber atraksi yang berupa benda/monumen buatan manusia (man made resources), misalnya bangunan purbakala, masjid, taman hiburan, monumen, maoseleum, dan lain-lain; (3) Sumber atraksi yang berkenaan dengan aktivitas manusia (human resources), misalnya berbagai seni pertunjukan, ritus, keagamaan, festival, upacara tradisi, dan lain-lain (Tim Litbang, 2003). Ketiga jenis atraksi tersebut dapat dikembangkan di berbagai situs (lokasi obyek wisata arkeologi) di Maluku.

Obyek utama warisan budaya di wilayah Maluku ini perlu dipikirkan pengembangannnya sebagai obyek wisata. Situs-situs budaya (arkeologi), pada umumnya terletak di wilayah yang terbuka, sehingga wisatawan dapat berkunjung dalam jumlah besar. Situs-situs tersebut pada umumnya juga memiliki area yang luas, selain di dalamnya juga dapat dijumpai berbagai benda budaya tinggalan masa lampau, juga tersebar di hampir seluruh wilayah Maluku, sehingga wisatawan tidak terkonsentrasi di satu situs obyek wisata saja. Tentu dengan ini konsep pariwisata berwawasan pelestarian dapat terjaga.

Secara garis besar beberapa karakteristik sumberdaya arkeologi warisan budaya sebagai obyek wisata yang memilki peluang dan potensi besar untuk dikembangkan antara lain :

1.        Wisata Kota,

Dihadirkan melalui benteng-benteng kolonial. Beberapa benteng kolonial hingga sekarang masih utuh. Didalammnya terdapat berbagai informasi, cerita-cerita dramatik tentang sejarah dan kepahlawanan, dapat dikemas sebagai sajian pariwisata yang sangat menarik. Pengembangan wisata benteng sendiri, tampaknya bukan hal baru bagi Wilayah Maluku.. Wisata benteng, merupakan image atau ikon Wisata Kota di Provinsi Maluku. Wisata benteng diatas lansekap kota dipadu dengan panorama alam sekitar terutama bahari adalah karakteristik tersendiri.

2.        Wisata desa

Menghadirkan suasana kehidupan asri mayarakat desa. Selain itu bisa pula dihadirkan obyek wisata situs-situs negeri lama di Maluku di daerah perbukitan. Selain pada situs ini berbagai informasi kebudayaan masa lampau masyarakat Maluku dapat diperoleh, juga pada lokasi situs negeri lama pada umumnya masih menyimpan berbagai tinggalan budaya masa lampau yang bisa menjadi obyek wisata minat khusus, bahkan beberapa diantara negeri-negeri lama tersebut merupakan bekas kerajaan di masa lampau. Tinggalan dan tradisi megalitik adalah pertanda khusus dari sebuah Negeri Lama. Utamanya dolmen (meja batu) hampir tersebar merata di seluruh Negeri Lama di Maluku, bahkan masih dapat dijumpai di desa baru di pesisir pantai.

Situs Negeri Lama memiliki karakteristik yang dapat ditonjolkan bersama dengan obyek panorama alam pedalaman/pegunungan. Ditambah berbagai obyek tunggal arkeologi, atrakti budaya masyarakat yang masih hidup yang kini bermukim di pesisir adalah karakteristik yang bisa dijadikan satu kemasan. Belum lagi, lereng-lereng antara negeri lama di perbukitan dan negeri baru di pesisir, dirangkai oleh perkebunan cengkeh, layaknya jembatan pohon yang berbaris menghubungkan kedua lokasi itu.

3.        Perkampungan tradisional.

Banyak wilayah-wilayah di Maluku Tenggara terdapat perkampungan-perkampungan tradisional yang otentisitas masa lampaunya masih bertahan. Di perkampungan itu, selain masih bisa dijumpai berbagai pranata budaya masa lampau yang masih dipertahankan juga terdapat berbagai tinggalan arkeologi yang menarik sebagai obyek wisata. Susunan pagar batu yang utuh serta morfologi pemukiman yang terdapat didalamnya membangkitkan inspirasi tersendiri. Perkampungan tradisional di atas bukit, dengan hamparan laut dan pantai pasir putih yang lurus dan melengkung di kaki bukit adalah pesona yang memukau.

Author : Guntur Sakti

-->