JURNAL DESTINASI KEPARIWISATAAN INDONESIA VOL.1 NO.1 JUNI 2016

Selasa, 14 Juni 2016

0

199

PENGELOLAAN KAWASAN SITUS KOTA KUNO BANTEN SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN PERGERAKAN WISATAWAN NUSANTARA

Ni Komang Ayu Astiti
Peneliti Pada Asdep Litbangjakpar Kementerian Pariwisata
Asdep Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan
Kementerian Pariwisata
Jalan Medan Merdeka Barat No.17 – Jakarta 10110
e-mail: astitiayu69@yahoo.co.id; nikomangayu69@gmail.com

Download Artikel

Abstrak

   Kawasan Situs Kota Kuno Banten mempunyai nilai sejarah dan budaya yang cukup tinggi terutama dalam bentuk kebudayaan material yang sangat unik dan khas. Kawasan ini sangat potensial dikembangkan untuk meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara. Besarnya potensi wisata di kawasan ini, belum dibarengi dengan pengelolaan kawasan yang tepat, sehingga muncul permasalahan bagaimana mengelola kawasan ini agar lebih memberikan daya tarik kepada wisatawan untuk berkunjung. Tujuan penelitian ini menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata budaya unggulan yang tertata sehingga lebih mendorong dalam meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil kajian ini menunjukan bahwa kawasan Situs Kota Kuno Banten dapat meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara dengan cepat jika ada pengelolaan kawasan yang tepat dan optimal sesuai dengan kebutuhan pelestarian dan wisatawan. Hal ini disebabkan karena didukung oleh sumber daya budaya tangible yang unik dan khas di kawasan ini dan tradisi masyarakat Indonesia dalam melaksanakan aktivitas religi untuk melakukan ziarah ke makam-makam kuno (raja, kerabat raja, ulama dan tokoh-tokoh agama) dan masjid-masjid kuno yang disakralkan. Kawasan ini selain sebagai destinasi wisata budaya (religi dan sejarah) juga sebagai destinasi wisata edukasi dan alam sehingga sangat potensial dikembangkan untuk meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara. Pengelolaan dengan system zoning (pemintakatan) pada setiap situs berdasarkan penataan ruang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan yang meliputi zona inti merupakan tempat keberadaan cagar budaya sebagai daya tarik atraksi wisata, zona penyangga dan zona pengembangan dapat digunakan sebagai penyediaan fasilitas wisatawan seperti toko-toko souvenir dan rumah makan. Rekomendasi penelitian ini adalah diperlukan penyusunan sinergitas Masterplan dan koordinasi dari semua Stakeholder terkait Penataan kawasan.

Kata Kunci: pengelolaan, pergerakan kunjungan, wisata budaya.

*Dilarang menyebarluaskan tulisan ini, kecuali menyebutkan sumber tulisan dan nama penulisnya.