CEO Message #54 Hari Belanja Diskon Indonesia

Sabtu, 1 September 2018

0

219

 

CEO Message #54

Hari Belanja Diskon Indonesia

Rabu, 8 Agustus lalu saya bersama Gubernur Sumatera Selatan Pak Alex Noerdin dan Ketua Umum HIPPINDO (Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan lndonesia) Pak Budiharjo Iduansjah meresmikan pembukaan Hari Belanja Diskon Indonesia (HBDI) di Palembang. HBDI juga bisa diartikan Happy Birthday Indonesia, karena selalu diadakan di bulan Agustus. Untuk kali ini, HBDI sangat istimewa karena dihelat untuk menyukseskan Asian Games 2018 dimana kita menjadi tuan rumah.

 

Pak Presiden memang meminta agar saat Asian Games berlangsung ada diskon harga besar-besaran di pusat-pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia, khususnya di Jakarta dan Palembang. Sekaligus menyambut Hari Kemerdekaan ke-73, angka diskonnya sengaja dibikin unik: besaran diskonnya hingga 73%; memberikan harga khusus Rp 73 ribu; dan ada diskon istimewa untuk mereka yang berusia 73 tahun.

 

 

Bagi kita event akbar seperti Asian Games adalah peluang emas untuk mendatangkan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara. Karena itu seperti sudah sering saya katakan, event sport tourism tak bisa berdiri sendiri. Untuk menarik minat wisatawan, ajang olahraga sebagai daya tarik saja tidak cukup. Diperlukan adanya kegiatan pendukung seperti HBDI ini. Kita juga menyiapkan tujuh destinasi dan 75 paket wisata untuk menyongsong kedatangan 170 ribu wisatawan dari gelaran Asian Games.

 

 

Terkait wisata kuliner dan belanja (kulja), dengan agak berat ingin saya katakan  bahwa  Indonesia  belumlah  menjadi  salah  satu  negara  yang menjadi surga belanja, khususnya bagi para wisatawan. Padahal di seluruh dunia sekitar 30 sampai 40 persen spending wisatawan adalah di kuliner dan belanja.

 

Kenapa bisa demikian?

 

 

Ada dua faktor yang menyebabkan sektor perbelanjaan di Indonesia belum menggairahkan bagi  wisatawan, yakni regulasi dan teknologi. Pertama, peraturan yang mendukung wisata belanja perlu disesuaikan agar bisa bersaing secara regional dan global. Kedua, kita harus berani melakukan transformasi digital dengan mendorong event seperti HBDI menggunakan teknologi online.

 

 

Tax Refund

Untuk mendorong Indonesia menjadi salah satu surga belanja dunia kebijakan mengenai tax refund (sistem pengembalian pajak) bagi para wisman belanja merupakan hal penting. Celakanya, tax refund ini di Indonesia belum menjadi kelaziman layaknya negara tetangga seperti Singapura.

 

 

Branded product yang dijajakan di Singapura, Jepang atau Korea Selatan jauh lebih murah dibandingkan mal-mal di Jakarta salah satunya karena penerapan insentif berupa tax refund di negara-negara tersebut sangat efektif. Di Indonesia untuk mendapatkan branded items dengan skema tax refund hanya terbatas pada toko bebas bea atau sering dikenal dengan Duty Free Shop yang jumlahnya masih terbatas. Di negara-negara lain, bebas pajak diberikan di toko manapun yang berpartisipasi dalam tax free dengan  cukup  menunjukkan paspor asing.  Di Jepang, sebagai contoh, sejak bulan Juni 2018 wisatawan bisa mendapatkan bebas pajak dengan menunjukkan  paspor  asing  ketika  mereka  membeli  produk  konsumsi contoh: makanan, kosmetik, minuman beralkohol (bisa dikonsumsi saat masih berada di Jepang) dan produk umum contoh: perhiasan, pakaian, barang elektronik (digunakan setelah meninggalkan Jepang) dengan nilai belanja min ¥5.000  (Rp. 650.000) s/d ¥500.000 (Rp. 66 juta) dalam 1 hari.

 

 

Memang Pemerintah sudah memberlakukan kebijakan tax refund sebesar

10 persen (diatur dalam UU No. 42 Tahun 2009) sejak tahun 2010 namun harus diakui implementasinya masih belum menggembirakan. Menurut Ditjen Pajak, jumlah pemohon tax refund oleh turis asing dalam waktu 3

 

tahun terakhir rata-rata baru 1.000 pemohon per tahun, masih sangat kecil. Dibandingkan dengan Singapura, diyakini jumlah pemohon tax refund mencapai ratusan ribu atau jutaan wisman.

 

 

Diyakini kebijakan tax refund telah dikaji oleh Kementerian Keuangan dan diyakini pula semua anggota HIPPINDO berkomitmen untuk mendaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak untuk mendapatkan skema tax refund. Dengan  demikian,  tax  refund  benar-benar  menjadi  daya  tarik  wisata belanja yang lebih mudah dipromosikan.

 

 

Ada beberapa peraturan tax refund yang perlu kita kaji dan perbarui.

 

 

Pertama   adalah   relaksasi   peraturan   dengan   menurunkan   batasan maksimal refund secara cash di bandara atau mal-mal yang ditunjuk. Ketentuan yang berlaku saat ini satu faktur belanja yang bisa di-refund oleh wisman (minimum spending) adalah Rp 5 juta. Saya ingin nilai ini bisa diturunkan menjadi hanya Rp 1 juta. Di negara pesaing, nilai belanja setara Rp  1  juta  sudah  bisa  di-refund.  Di  Singapura  misalnya,  100  dolar Singapura sudah boleh di-refund.

 

 

Kedua, proses pengembalian pajak juga harus disederhanakan dan dipermudah. Singapura sangat baik melakukan hal ini. Di negara ini tax refund bisa dalam bentuk uang kas, cek, atau voucher menarik yang mendorong wisman berkunjung kembali. Mereka juga menerapkan tax refund elektronik sehingga wisman tak perlu lagi antri.

 

 

Di   samping   itu   waktu   klaim   tax   refund   juga   di   Indonesia   harus diperpanjang. Waktu klaim yang berlaku sekarang adalah 1 bulan setelah belanja, saya ingin masa klaim ini diperpanjang hingga 3 bulan. Tujuannya agar wisman datang lagi ke Indonesia, kalau buru-buru nggak apa-apa, dia sudah punya simpanan banyak tax refund bisa klaim lagi.

 

 

Ketiga, kita harus meningkatkan jumlah jumlah PKP (Pengusaha Kena

Pajak) dan Toko PKP sehingga jumlah peserta tax refund akan semakin

 

banyak, karena untuk mendapatkan skema tax refund, harus berstatus sebagai PKP terlebih dahulu.

 

 

Belajar dari Singapura

Saya sering mengatakan, cara paling mudah dan paling cepat untuk memenangkan persaingan adalah dengan melakukan benchmarking. Terkait tax refund, kita harus banyak belajar dari Singapura. Kita tahu Singapura adalah salah satu surga belanja di dunia dan menuai sukses salah satunya karena kebijakan tax refund yang efektif.

 

 

Singapura memberlakukan tax refund dengan menerapkan GST (Goods and Service Tax) sejak 1994 sebesar 3 persen sampai dengan 7 persen. Jadi setiap turis yang membeli barang di seluruh wilayah Singapura dan dikenakan GST dapat melakukan klaim untuk mengembalikan pajak tersebut pada saat turis akan keluar dari Singapura.

 

 

Ada dua operator pengembalian GST yaitu Global Refund dan Premier Tax Free. Toko-toko yang bekerja sama dengan kedua operator ini biasanya memasang tanda “Tax Refund” atau salah satu logo dari operator GST. Wisman  berhak  menukar  hingga  3  faktur  yang  sama  dari  toko  yang memiliki  nomor  registrasi GST  yang  sama  untuk  memenuhi  pembelian minimum SGD100. Di Singapura, pengajuan pengembalian GST harus dilakukan dalam kurun waktu dua bulan setelah pembelian produk.

 

 

Toko atau outlet yang tidak tergabung dalam program GST refund bisa menjalankan program tax refund sendiri. Setiap toko tersebut bisa saja memiliki kebijakan berbeda satu sama lain Misalnya, tax refund bisa dalam bentuk uang kas, cek atau voucher menarik yang membuat wisman berkunjung kembali.

 

 

Untuk  memudahkan  wisman  melakukan  pengembalian  pajaknya pemerintah  Singapura  memberlakukan  eTRS  (The  Electronic  Tourist Refund  Scheme).  eTRS  ini  membantu  pelayanan  tax refund  bagi  turis sehingga tidak perlu mengisi form pengembalian yang dikeluarkan oleh toko  yang  berbeda-beda,  tak  perlu antri,  dan tidak  banyak  membuang

 

waktu. Ditambah lagi eTRS ini user-friendly dengan penggunaan banyak bahasa yang berbeda.

 

 

HBDI Go Online

Di samping masalah regulasi terkait tax refund, saya juga mendorong agar HBDI bisa “go online”. Kemudahan berbelanja melalui teknologi digital menjadi hal penting untuk mendorong wisman berbelanja di Indonesia. Karena   itu  saya   meminta  HBDI  online   harus  menjadi  bagian  dari perhelatan tahunan ini.

 

 

Dari   sisi   pemasaran,   ritel   online   menawarkan   segudang   kelebihan dibanding ritel tradisional seperti: kemudahan, kenyamanan, kecepatan dalam  mencari  informasi  dan  bertransaksi;  harga  yang  lebih  kompetitif (more for less); dan jangkauan pasar yang lebih luas. Dengan berbagai kelebihan tersebut ritel online berpotensi mendatangkan omset yang jauh lebih besar.

 

 

Contoh program diskon online yang berhasil adalah Hari Jomblo Internasional (Single’s Day) di Tiongkok dan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas)   di   Tanah   Air.   Hari   Jomblo   Internasional   yang   digelar November 2017 oleh Alibaba mampu mencetak rekor penjualan tertinggi di dunia mencapai sekitar USD 25 miliar. Sementara Harbolnas yang diselenggarakan bulan Desember 2017 dan melibatkan lebih dari 250 e- commerce mampu mencetak penjualan hingga Rp 4,7 triliun.

 

 

Beberapa program diskon juga mulai mengembangkan online presence untuk lebih mendongkrak penjualan. Contohnya Garuda Indonesia Travel Fair (GATF). Setelah sukses menggelar GATF secara offline, sejak 2016

Garuda Indonesia mulai meluncurkan Garuda Indonesia Online Travel Fair

(GOTF) yang bisa diakses di berbagai digital channel Garuda Indonesia.

 

 

Sejarahnya dulu, sayalah yang mendorong manajemen Garuda Indonesia untuk juga membuat GOTF di samping GATF. Kenapa? Karena prioritas utama saya adalah mendatangkan turis inbound. Dengan adanya online

 

presence, maka promo diskon tersebut bisa diakses oleh travellers dari mancanegara sehingga akan meningkakan turis inbound.

 

 

Hasilnya rupanya melebihi ekspektasi. Kalau transaksi GOTF pada tahun pertama 2016 (1 event) mencapai Rp 106 Miliar, maka di tahun 2017 (3 event) melonjak menjadi Rp 524 Miliar atau meningkat 5 kali lipat. Tahun ini targetnya adalah Rp 360 Miliar (2 kali), namun saya optimis Garuda Indonesia bisa menembus angka transaksi Rp 1 triliun.

 

 

Dengan berbagai kisah sukses tersebut kini saya juga mendorong HIPPINDO  untuk  go  online.  Para  pengusaha  ritel  kita  harus  berani membuat keputusan untuk bertahan dan sukses di era disrupsi digital, artinya mereka harus siap melakukan transformasi digital.

 

 

Saya berharap dengan berbagai upaya di atas harapan kita untuk memanfaatkan  momentum  Asian  Games  untuk  menarik  wisman  dan devisa sebanyak mungkin akan bisa kita wujudkan.

Salam Pesona Indonesia! Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.

Menteri Pariwisata