Galeri | Link Informasi | Hubungi Kami | Forum | Peta Situs Indonesia | English       
Pencarian :      
 
  • Only 55 days left to the #AsianGames2018 just Prepare For The Games! 🇮🇩
  • Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2018 dapat dilihat di Menu Berita-->ISTA
 
 Berita Utama
 Pengumuman
 Agenda
 Kegiatan Pembangunan
 Publikasi
 Kegiatan Pertemuan
 Info Peluang
 Pengadaan Barang/Jasa
 Rencana Umum Pengadaan (RUP)
 Pidato
 CEO Message
 Pengumuman Seleksi Jabatan
 Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Madya
 Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama
 Calender Of Event
 ISTA 2018
 Tentang ISTA
 Pedoman ISTA
 Dokumen dan Formulir Pendaftaran ISTA
 
CEO Message
CEO Message #42 NOMADIC TOURISM
20-Feb-2018 00:00

 

Nomadic Tourism

Solusi Sementara Sebagai Solusi Selamanya

 

 

Saya sering mengatakan, kunci kesuksesan pengembangan destinasi wisata adalah 3A yaitu: atraksi, aksesibilitas, dan amenitas. Namun, melengkapi tiga komponen ini bukanlah pekerjaan yang gampang. 

 

Ambil contoh Danau Toba. Dari sisi atraksi, tidak dapat diragukan lagi dapat dikategorikan sebagai destinasi wisata kelas dunia, dengan gelar yang disandangnya sebagai danau vulkanik terbesar didunia atau sering disebut super volcano caldera. Dari sisi aksesibilitas, saya melihat progress-nya bagus antara lain dengan adanya Bandara Silangit yang telah ditetapkan sebagai bandara internasional. Namun, selalu tertinggal kalau kita bicara mengenai amenitas seperti hotel, resort, atau kafe.

 

Untuk mengembangkan amenitas memang kita harus menunggu aksesibilitas. Celakanya, setelah aksesibilitas seperti bandara dan jalan terbangun, kita masih butuh waktu 4-5 tahun untuk membangun hotel berbintang. Sementara kita tahu target 20 juta wisman sudah di depan mata. 

 

Lalu apa solusinya?

 

Nomadic Accomodation

Solusinya adalah homestay yang memang sudah kita canangkan sejak tahun lalu. Namun membangun homestay pun tidak bisa cepat, perlu waktu beberapa bulan. Karena itu solusi tercepatnya adalah dengan membangun amenitas (akomodasi) yang sifatnya bisa dipindah-pindah.   

 

Bentuknya bermacam-macam. Akomodasi yang paling mobile adalah karavan, hotel di atas mobil, atau bisa kita sebut “hotel mobil”. Hotel karavan ini bisa berpindah harian atau mingguan, untuk mencari spot-spot terindah di suatu destinasi wisata.

 

Di Danau Toba misalnya, dengan hotel karavan ini wisatawan bisa berpindah-pindah di spot-spot tercantik di sepanjang tepi danau mulai dari Parapat, Ambarita, hingga Bakara.  

 


Gambar: Hotel Karavan

 

Bentuk nomadic accommodation lain adalah glam camp (glamour camp), semacam tempat camping tapi dengan fasilitas akomodasi kelas bintang. Glamping (glamour camping) kini menjadi tren berlibur gaya baru di seluruh dunia dimana wisatawan ingin mendapatkan pengalaman menyatu dengan alam tapi tetap mendapatkan layanan akomodasi layaknya di hotel berbintang.  

 


Gambar: Glam Camp

 

Di samping itu kita juga bisa mengembangkan homepod atau “rumah telur” yang juga bisa portable. Kalau karavan bisa berpindah dalam ukuran hari; glam camp bisa bulanan; maka homepod bisa enam bulan atau setahun dipindah. Ya, karena homepod ini semi-fixed dengan berat sekitar 2 ton dan bisa dibongkar pasang.  

 


Gambar: Homepod

 

Kalau tiga jenis nomadic accommodation di atas bisa portable, maka saat membangun kita tidak perlu berfikir dan tak perlu begitu banyak pertimbangan seperti ketika membangun hotel yang permanen. Toh, kalau karavan atau homepod nya di suatu spot destinasi wisata tidak cocok dengan mudah kita bisa memindahkannya.

 

Hal ini berbeda jika kita membangun hotel. Ketika kita sudah membangun hotel di suatu destinasi wisata tertentu dan ternyata destinasi itu sepi, maka otomatis hotelnya ikutan sepi. Karena untuk membangun hotel dibutuhkan banyak pertimbangan dan feasibility studies yang memakan waktu.

 

Dengan menciptakan inovasi akomodasi nomadic ini, maka sejak tahun 2018 ini Kemenpar akan secara serius mengembangkan apa yang disebut nomadic tourism. Karena karakteristiknya yang bisa dipindah-pindah alias tidak permanen, maka konsep nomadic tourism ini sangat cocok dikembangkan di daerah-daerah yang belum tersedia akomodasinya seperti hotel atau pun homestay.

 

Kita punya 17.000 pulau, 75.000 desa, dan ratusan destinasi indah. Kalau harus membangun hotel konvensional perlu waktu yang sangat lama, homestay pun menurut saya masih kurang cepat. Maka, saya umumkan bahwa saya akan memberikan insentif bagi orang yang masuk ke nomadic tourism.

 

Dari Temporary ke Fix Solution

Sesungguhnya ide nomadic tourism ini saya peroleh dari dunia telekomunikasi yang telah saya geluti puluhan tahun. Layanan prepaid itu sesungguhnya adalah temporary solution saat awal dibikin. Kala itu layanan ini diperuntukkan kepada para backpacker atau traveller dari luar negeri yang uangnya nggak terlalu banyak tetapi jiwa adventure-nya luar biasa. Mereka datang ke Indonesia kita beri nomor temporary.

 

Nah, temporary solution tersebut ternyata betul-betul menyelesaikan masalah mereka karena pengeluaran untuk menelpon bisa dikontrol. Layanan itu pun kemudian menjadi relevan tak hanya untuk backpacker tapi juga untuk mayoritas konsumen yang ingin bisa mengontrol pengeluaran. Makanya tak heran jika pendapatan operator sekitar 90% datang dari layanan ini. Jadi dari awalnya merupakan temporary solution kini layanan prepaid menjadi fix solution. Mengapa orang dengan mudah membeli kartu perdana, karena mereka berpikiran bahwa kalau tidak cocok akan mudah diganti. Namun kenyataannya sebagian besar kartu perdana yang dibeli tidak diganti.

 

Melihat kesuksesan dari layanan prepaid itu, saya meyakini bahwa untuk Indonesia, nomadic tourism yang tadinya sebagai temporary solution akan menjadi fix solution bagi pariwisata Indonesia. Artinya, seperti halnya layanan prepaid, nomadic tourism ini bakal menjadi mainstream market di Indonesia.

 

Awalnya memang nomadic accomodation adalah temporary solution sebelum kita bisa menyediakan hotel-hotel permanen di berbagai destinasi wisata di seluruh tanah air. Namun saya meyakini, setelah terbangun maka glam camp atau homepod di atas tak akan pindah-pindah. Artinya nomadic accommodation itu menjadi akomodasi utama pilihan wisatawan.  

 

Memang, untuk pertama kali yang kita bangun adalah nomadic accommodation untuk kalangan middle-up. Namun saya yakin bahwa kelak akan merata di semua kelas. Orang akan menyulap VW-VW Combi menjadi karavan-karavan. Anak muda akan sangat kreatif memanfaatkan nomadic tourism.

 

Secara psikologis, ketika kita berinvestasi dan kita tahu caranya mengamankan investasi tersebut, maka hati kita akan tenang. Ketika kita membangun karavan di suatu destinasi wisata tertentu, maka cocok atau tidak karavan tersebut dengan destinasinya tidak akan begitu menjadi masalah. Kita merasa tenang karena kita memiliki solusi kalau sampai karavan yang kita bangun tersebut tidak cocok, yaitu dengan memindahkannya ke destinasi lain.

 

Analoginya, kalau kita punya tabungan cukup di bank, meskipun tidak kita gunakan kita akan merasa tenang.

 

Nomadic Accommodation + Sea Plane

Kalau nomadic accomodation ini digabungkan dengan temporary solution yang lain yaitu konsep aksesibilitas sea plane, maka keduanya akan menjadi solusi yang luar biasa.

 

Wisatawan datang ke Pulau Run di Maluku sulitnya luar biasa, kenapa? Karena Pulau Run tidak punya bandara. Untuk memecahkan masalah ini kita tak perlu fix solution seperti membangun bandara. Kita punya laut yang luas, kita akan kombinasikan nomadic tourism dengan sea plane yang tidak membutuhkan fix solution seperti bandara yang tentu butuh waktu lama dan dana besar untuk membangunnya.

 

Saya meyakini ini akan sukses luar biasa. Negeri kepulauan seperti Indonesia sangat sesuai dengan konsep ini. Para wisatawan cukup landing di pantai dengan sea plane. Kita akan mengarahkan sea plane itu ke berbagai destinasi wisata eksotik kita. Bisa dibayangkan pesawat-pesawat kecil tersebut bisa landing dalam waktu yang tidak terlalu panjang dan itu pasarnya sangat besar.

 

Dan dengan armada sea plane tersebut kita akan menjadikan Raja Ampat, Anambas, atau Labuan Bajo seperti Maldives.

 

 

****

 

Untuk merealisasikan nomadic tourism kita akan menjadikan kawasan wisata Danau Toba sebagai pilot project dan ditargetkan untuk ground breaking pada 2 April 2018. Manakala nomadic tourism di Danau Toba sudah berjalan, destinasi lain seperti Borobudur, Labuan Bajo, Wakatobi dan Raja Ampat, juga akan meminta pengembangan wisata yang serupa.

 

Untuk Danau Toba, Labuan Bajo, dan Borobudur sekaligus kita akan menggunakan konsep nomadic tourism ini untuk melayani tamu-tamu kita para delegasi IMF-World Bank Annual Meeting bulan Oktober nanti. Borobudur tak begitu masalah karena hotel-hotelnya sudah cukup banyak.

 

Untuk pasarnya saya tidak khawatir, pasti pasarnya bagus. Kalau kita mau high-end market, atau harus kelas satu, yang bisa cepat ya nomadic tourism ini. Untuk awal-awal kita akan menarget high-end market, namun seiring berjalannya waktu pasarnya akan meluas menjadi mass market untuk semua kalangan.

 

Beberapa waktu lalu UNWTO mengeluarkan daftar The World’s Fastest Growing Tourist Destinations for 2017. Salah satu kejutan dari daftar tersebut adalah masuknya Mongolia di jajaran Top-10 dengan pertumbuhan wisman mencapai 28,3%.

 

Apa rahasia sukses pariwisata Mongolia? Tak lain karena dia mulai fokus dan memposisikan diri sebagai: “the center of world nomadic tourism and the regional leader”.  

 

 

Salam Pesona Indonesia!!!

 

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.

 

ISTA 2018

 

Hubungi Kami

      

Asian Games 2018

     

E-Magazine

       

Selengkapnya...

 
   
copyright@2012 ministry of tourism. All rights reserved