Galeri | Link Informasi | Hubungi Kami | Forum | Peta Situs Indonesia | English       
Pencarian :      
 
  • Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) - 2017 ( Menu : Berita > ISTA )
  • Student Video Essays Contest (menu : Berita > Pengumuman )
  • Pengumuman Usulan Dana Alokasi Khusus Subbidang Pariwisata Tahun Anggaran 2016
 
 Berita Utama
 Pengumuman
 Agenda
 Kegiatan Pembangunan
 Publikasi
 Kegiatan Pertemuan
 Info Peluang
 Pengadaan Barang/Jasa
 Rencana Umum Pengadaan (RUP)
 Pidato
 CEO Message
 ISTA
 
CEO Message
CEO Message #30 Character-Centric Company
16-Jun-2017 10:00

Setiap CEO Message saya upayakan agar senantiasa kontekstual. Apa yang dilakukan, saya tuliskan, dan apa yang dituliskan, saya lakukan. Karena sekarang kita berada di tengah bulan suci Ramadhan, maka saya akan membahas spiritualitas dalam kita bekerja dan berkarya.

Point besarnya adalah bahwa pada akhirnya semua yang kita lakukan adalah sebagai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai orang yang beragama, kita yakini bahwa akhir dari apa yang kita lakukan adalah ibadah. Bekerja untuk dan atas nama Tuhan. Kalau sudah mencapai derajat tersebut, maka dampaknya adalah adanya integritas yang tinggi karena seluruh aktivitas kita merupakan ibadah kita.
 
Namun untuk mencapai tingkatan tersebut tidaklah mudah. Saya terlebih dahulu ingin membawa pada tataran di bawahnya yakni bekerja untuk bangsa dan negara. Kita dipacu untuk senantiasa bekerja dan beraktivitas sebagai bagian dari bakti kita kepada negara. Kelak, bila telah mampu, maka kita akan meningkat ke level tertinggi, bekerja untuk dan atas nama Tuhan yang berarti bernilai ibadah.
 
Saya telah berkali-kali menyampaikan bahwa spirit itu lebih hebat dari strategi. Spirit berkaitan dengan hati dan character, sedangkan strategi berkaitan dengan competence. Kenyataan menunjukkan bahwa hati dan character memberikan pengaruh yang sangat besar pada sebuah kesuksesan.
 
John Kotter dalam bukunya Heart of Change menyebutkan “70% transformasi yang pernah dilakukan ternyata gagal karena hanya menggunakan kepala (head) tanpa hati (heart). Menurutnya, pemimpin yang berhasil dalam melakukan transformasi adalah mereka yang melibatkan aspek hati.
 
Sementara itu  Roosevelt menyatakan, “Character is the foundation for all true success”. Character itu merupakan fondasi dari keberhasilan yang sejati. Character berpengaruh terhadap kesuksesan setiap individu, keluarga, organisasi, komunitas, dan negara. Kesuksesannya tergantung pada kesuksesan hubungan yang dibangun dengan orang atau organisasi lain, dan hal tersebut dimulai dengan character.
 
Character yang luhur akan menghasilkan individu-individu yang berpikir positif (positive thinking). Individu demikian mampu melihat sesuatu yang tidak tampak (“sees the invisible”), merasakan sesuatu yang tidak nyata (“feels the intangible”), dan mencapai sesuatu yang tidak mungkin (“achieves the imposible”). Individu yang berpikir positif senantiasa melihat orang lain dengan pandangan mata lebah. Ia melihat bahwa dalam setiap keberhasilannya selalu ada kontribusi orang lain.
 
Bila hal tersebut terjadi pada seluruh individu di Kemenpar, maka dampaknya akan sangat luar biasa.
 
 
4R
 
Saya membagi dimensi dasar manusia ke dalam empat tingkatan yaitu: Raga (badan), Rasio (akal), Rasa (hati), Ruh (Kalbu). Setiap tingkat di atasnya mengatasi kelemahan tingkat di bawahnya. Rasio mengatasi kelemahan Raga, Rasa mengatasi kekurangan Rasio, dan Ruh mengatasi kelemahan Rasa.
 
Raga terbuat dari tanah dan cenderung menarik kita ke bawah. Raga selalu cenderung menggiring kita untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek  (short-term) dan ingin memuaskan semuanya. Pada akhirnya Raga akan kembali menjadi tanah. Sedangkan Ruh ibarat cahaya yang membawa kemuliaan, akan cenderung membawa kita ke atas.
 
Derajat manusia yang mempunyai Raga, Rasio, Rasa dan Ruh mempunyai kedudukan yang berbeda-beda di hadapan Tuhan. Bila ingin mengetahui derajat kita di hadapan Tuhan, maka lihatlah bagaimana kita menempatkan Tuhan pada diri kita.
 
Dalam hidup, kita seringkali dihadapkan pada berbagai ujian. Jabatan, kedudukan dan kekayaan yang kerapkali diperebutkan orang, hanyalah soal-soal ujian. Kelak kita tidak ditanya tentang soal-soal ujian itu. Pertanyaan yang pasti harus kita jawab, adalah hasil ujian itu sendiri, apakah kita lulus atau tidak.  Kita tentu saja berharap dapat lulus dari ujian tersebut.
 
Dalam kerangka berpikir strategis (strategic thinking), ketika orientasi berpikir kita hanya sebatas Company (berpikir Micro) maka kita hanya akan memperoleh hasil yang bersifat jangka pendek. Sedangkan ketika kita memperluas orientasi berpikir dengan memikirkan kepuasan Customer atau “starts and end with the customer” (berpikir Macro) maka hasil yang kita dapat akan bersifat jangka panjang. Dan ketika kita mampu berpikir Mega, yang berarti memikirkan komunitas atau Country, maka otomatis kepuasan Customer dan keuntungan Company dalam jangka panjang yang bersifat sustain dapat dicapai.
 
Kita hanya bisa sampai ke level Mega dengan baik bila sudah mencapai level spiritual, telah terbentuk spirit of giving yang menganggap bahwa apa yang kita lakukan akan  memberikan rahmat bagi alam semesta. Ketika telah mencapai level tersebut, yakinlah bahwa semakin banyak memberi, kita akan semakin banyak menerima, “the more you give the more you get”. Dan level tersebut hanya bisa dicapai oleh individu-individu yang berkarakter.
 
Nah, level yang lebih tinggi lagi adalah ketika kita tidak punya kepentingan sama sekali. Ketika kita ikhlas, maka kita akan mendapatkan semuanya. Di situlah justru paradoksnya. Saat kita tidak mengharapkan semuanya, justru kita akan mendapatkan semuanya.
 
Beberapa contoh bisa saya sebut, Google dan Facebook. Mereka membuat hidup manusia lebih mudah. Tidak lagi berpikir dengan batas-batas geografis sebuah negara. Mereka hanya berpikir bagaiamana caranya hidup manusia dapat lebih mudah.
 
Itulah yang saya sebut Spiritual Capital Management. Definisi sederhananya bekerja dan berkarya sebagai ibadah.
 
 
8S
 
Konsultan top dunia McKinsey&Co. memiliki sebuah konsep yang sangat populer dalam ilmu manajemen yang disingkat 7S: Strategy, Structure, System, Shared Values, Skill, Staff, dan Style.  Agar sebuah organisasi bagus, maka ke-7 elemen ini haruslah solid dan selaras (aligned) satu sama lain.
 
Konsep 7S itu bisa dijadikan acuan untuk memudahkan penjelasan dan komunikasi mengenai transformasi organisasi kepada seluruh karyawan. Namun perlu ada beberapa pemikiran baru yang melengkapi penjelasannya, yaitu munculnya sebutan Great Leader yang saya rasakan justru menjadi penggerak awal atau penggerak utama dari transformasi sebuah organisasi.
 
Walaupun konsep 7S ini sudah terbukti ampuh digunakan berbagai organisasi di seluruh dunia, namun saya masih belum puas. Saya merasa bahwa 7S belum menjawab, mengapa transformasi organisasi bisa berjalan dengan baik. Pertanyaan saya, mana yang harus terlebih dahulu, Strategy atau Style. Seperti diketahui, Style ditempatkan oleh McKinsey di urutan akhir dari 7S-nya.
 
Berdasarkan pemikiran dan pendalaman yang cukup panjang akhirnya muncullah ide bahwa urutannya secara implementasi perlu dibalik. Jadi S yang pertama justru adalah Style. Style yang dimaksud di sini adalah Leadership Style yang dijalankan oleh Great Leader. Jadi, Great Leader inilah yang menetapkan Leadership Style baru kemudian menetapkan Shared Values, Strategy, dan elemen yang lain.
 
Pemikiran semacam ini saya yakini akan menjawab pertanyaan mengapa transformasi di sebuah organisasi bisa berjalan dengan tanpa gejolak yang berarti. Great Leader (Leadership Style) memegang peranan penting dalam setiap langkah transformasi organisasi. Karena pentingnya Leadership Style ini maka saya menempatkannya sebagai S yang pertama.
 
Namun dalam perjalanan saya selanjutnya, ternyata hal tersebut masih belum bisa menjawab pertanyaan mengenai apa yang mendasari Great Leader bisa bertindak dan bertingkah laku luhur dan ingin selalu memberikan yang terbaik. Karena alasan itulah saya menambahkan S yang ke-8 ke dalam konsep 7S, yaitu: Spiritual. Bahkan, karena penting dan fundamentalnya S ke-8 ini, saya menempatkannya di urutan pertama dan terpenting (lihat bagan).
 
Dengan perubahan ini saya ingin menekankan bahwa Kemenpar haruslah menjadi Character-Centric Company. Yaitu organisasi yang berlandaskan spiritualitas. Perlu diingat, kalau spritualitas kita kokoh, maka bisa saya pastikan 7S lainnya akan hebat.
 
Spiritualitas akan membuat semua pekerjaan kita bernilai ibadah kepada Tuhan sehingga akan selalu menjadikannya yang terbaik. Spiritualitas akan menjadi panduan bagi seorang Great Leader dalam menjalankan kepemimpinan, budaya dan elemen lain di dalam perusahaan.
Salam Pesona Indonesia!!!
 

Salam Pesona Indonesia!!!

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc., Menteri Pariwisata RI

 
   
copyright@2012 ministry of tourism. All rights reserved